Artikel

dosa yang di anggap sepele tapi banyak yg terjerumus karenanya

20 October 2026 Abdullah Muqbil
dosa yang di anggap sepele tapi banyak yg terjerumus karenanya

Dosa yang Dianggap Sepele, tetapi Banyak yang Terjerumus Karenanya

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih takut melakukan dosa besar daripada dosa kecil. Kita mungkin merasa khawatir ketika melakukan dosa yang jelas-jelas dilarang oleh agama, tetapi terkadang begitu mudah mengabaikan kesalahan kecil yang terjadi berulang kali. Padahal, dosa yang dianggap sepele dapat menjadi pintu menuju kelalaian yang lebih besar apabila tidak segera disadari dan ditobati.

Islam mengajarkan bahwa setiap perbuatan manusia berada dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun amal, baik maupun buruk, yang luput dari perhitungan-Nya. Allah berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ۝ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya pula.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa sekecil apa pun perbuatan manusia, semuanya memiliki konsekuensi. Lantas, apa saja dosa yang sering dianggap sepele, tetapi banyak orang terjerumus ke dalamnya?

1. Ghibah yang Dibungkus dengan Candaan

Ghibah atau menggunjing merupakan salah satu dosa yang sering terjadi dalam pergaulan. Banyak orang membicarakan keburukan orang lain ketika berkumpul bersama teman, di tempat kerja, bahkan melalui media sosial. Anehnya, perbuatan ini sering dianggap biasa, terlebih jika dilakukan sambil tertawa atau sekadar bercanda.

Padahal, Allah telah memberikan peringatan keras dalam Surah Al-Hujurat ayat 12. Allah mengumpamakan orang yang menggunjing saudaranya seperti seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati.

Gambaran tersebut menunjukkan betapa buruknya perbuatan ghibah. Seseorang mungkin merasa tidak melakukan apa-apa karena hanya berbicara, padahal lisannya dapat menyakiti kehormatan orang lain dan mendatangkan dosa.

Karena itu, sebelum membicarakan seseorang, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah perkataan ini bermanfaat, atau justru membuka aib saudara kita?

2. Berdusta demi Hal yang Dianggap Sepele

Sebagian orang terbiasa berbohong untuk menghindari teguran, mencari alasan, atau membuat dirinya terlihat lebih baik. Ada pula yang menganggap kebohongan kecil tidak menjadi masalah selama tidak merugikan orang lain secara langsung.

Padahal, kebiasaan berdusta dapat mengikis kejujuran sedikit demi sedikit. Sekali seseorang terbiasa berbohong, ia akan lebih mudah mengulanginya ketika menghadapi persoalan yang lebih besar.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa kejujuran menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebohongan menuntun kepada kejahatan. Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Oleh sebab itu, jangan meremehkan kebohongan hanya karena terlihat sederhana. Biasakan berkata jujur, sekalipun kejujuran tersebut membuat kita harus mengakui kesalahan sendiri.

3. Menyakiti Orang Lain dengan Lisan

Ucapan seperti mengejek, merendahkan, memanggil seseorang dengan julukan buruk, atau melontarkan komentar yang menyakitkan sering dianggap sebagai bentuk keakraban. Namun, tidak semua orang mampu menerima candaan dengan cara yang sama.

Terkadang, seseorang tertawa di hadapan kita, tetapi hatinya terluka oleh perkataan yang kita ucapkan. Lebih buruk lagi, ada orang yang merasa bangga karena berhasil mempermalukan orang lain di depan banyak orang.

Allah melarang kaum beriman saling mengolok-olok dan memanggil dengan gelar yang buruk sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 11.

Seorang muslim seharusnya menjaga lisannya. Jika tidak mampu mengucapkan sesuatu yang baik, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih selamat.

4. Menunda Salat karena Terlalu Sibuk dengan Dunia

Dosa yang sering dianggap biasa berikutnya adalah menunda salat tanpa alasan yang dibenarkan. Ketika azan berkumandang, sebagian orang tetap asyik bermain gawai, menonton hiburan, bekerja, atau berbincang hingga waktu salat hampir habis.

Kesibukan dunia seolah-olah lebih mendesak daripada memenuhi panggilan Allah. Padahal, salat merupakan kewajiban utama seorang muslim yang tidak semestinya disepelekan.

Allah berfirman dalam Surah Al-Ma'un ayat 4–5 tentang kecelakaan bagi orang-orang yang salat, yaitu mereka yang lalai terhadap salatnya.

Ayat ini menjadi peringatan agar kita tidak menjadikan ibadah sekadar rutinitas tanpa kesungguhan. Urusan dunia memang penting, tetapi jangan sampai kesibukan tersebut membuat kita melupakan kewajiban kepada Allah.

5. Meremehkan Pandangan dan Perbuatan yang Dilarang

Di era digital, menjaga pandangan menjadi tantangan tersendiri. Berbagai gambar, video, dan konten yang tidak pantas dapat muncul hanya dengan membuka layar ponsel. Sebagian orang sengaja melihatnya, sementara yang lain terus menikmati konten tersebut karena merasa tidak ada orang yang mengetahuinya.

Padahal, Allah memerintahkan kaum mukminin untuk menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan diri, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nur ayat 30.

Merasa aman karena tidak ada manusia yang melihat bukanlah alasan untuk melakukan kemaksiatan. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk apa yang tersembunyi dalam hati dan pandangan manusia.

Karena itu, gunakan teknologi dengan bijak. Jauhkan diri dari konten yang merusak hati dan segera alihkan pandangan ketika melihat sesuatu yang dilarang.

6. Merasa Aman karena Dosa Belum Mendatangkan Hukuman

Salah satu kesalahan terbesar adalah menganggap bahwa dosa tidak berbahaya selama belum terlihat akibatnya. Seseorang mungkin terus melakukan maksiat karena hidupnya terasa baik-baik saja, rezekinya tetap lancar, dan tidak ada teguran yang datang kepadanya.

Padahal, kelapangan hidup bukan bukti bahwa Allah meridai setiap perbuatan kita. Bisa jadi seseorang sedang diberi kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum datangnya waktu yang tidak dapat ditunda.

Jangan menunggu musibah untuk mulai bertobat. Jangan menunggu kehilangan nikmat untuk menyadari betapa berharganya ketaatan.

Penutup: Jangan Remehkan Dosa, Sekecil Apa Pun

Dosa yang dianggap sepele dapat menjadi kebiasaan buruk ketika terus dilakukan tanpa penyesalan. Hati yang awalnya merasa bersalah perlahan-lahan dapat menjadi terbiasa, hingga kemaksiatan tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang perlu dihindari.

Namun, sebesar apa pun dosa seseorang, pintu tobat tetap terbuka selama ia masih hidup dan memenuhi syarat-syarat tobat yang benar. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53 agar hamba-hamba-Nya tidak berputus asa dari rahmat-Nya.

Maka, marilah kita mulai memperbaiki diri dari perkara-perkara sederhana. Jagalah lisan, luruskan niat, tunaikan salat tepat waktu, dan tinggalkan kebiasaan buruk yang selama ini dianggap biasa.

Ingatlah, bukan hanya dosa besar yang perlu kita takuti, melainkan juga dosa kecil yang terus dilakukan tanpa disadari. Sebab, keselamatan seorang hamba tidak ditentukan oleh seberapa kecil ia memandang dosanya, tetapi oleh kesungguhannya dalam menaati Allah, menjauhi larangan-Nya, dan segera bertobat ketika melakukan kesalahan.

Bagikan Kebaikan Ini: