Fatamorgana Dunia
Dunia ini seringkali seperti sebuah panggung sandiwara. Disana kenikmatan sesaat disajikan dengan cara yang membuatnya terlihat seperti kebahagiaan yang abadi, semua itu hanyalah ilusi yang dibuat agar terasa nyata. Kita mengejar kepuasan seolah-olah itu adalah kunci kebahagiaan sejati, tapi sebenarnya itu semua hanyalah fatamorgana, bayangan yang menipu. Dibalik semua kesenangan yang terlihat indah, ada kebenaran yang menyakitkan, realitas yang kita kejar dengan begitu keras ternyata tak lebih dari khayalan besar yang membuai. Kita terus berlari, berharap, mencari, padahal kebahagiaan yang sejati tak pernah ada di sana.
Paradoks Realitas
Paradoks realitas dalam kehidupan: apa yang tampak nyata dan menyilaukan dunia hanyalah fatamorgana semata. Allah menghiasi dan menjadikan indah pada pandangan manusia kecintaan akan sesuatu yang disenangi. Yang demikian Allah menguji seluruh individu, apakah mereka akan terjerumus ilusi optik semata tersebut sehingga mereka mencintai hal-hal tersebut hanya untuk kesenangan dan memenuhi kepuasan nafsu, ataukah hal-hal tersebut dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah?
Allah ta'ala berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الـذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِـكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang menumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik." (QS. Ali Imran:14)
Dengan demikian telah allah terangkan hanya segilintir kenikmatan sesaat itu yang mana dengannya tidak berujung pada kenikmatan yang hakiki. Semua ilusi fatamorgana itu hanya akan membawa kita kepada kehancuran baik itu di dunia atau di akhhirat, jika hal tersebut tidak dilandaskan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada dzat yang maha mencipta dan maha mengatur segalanya. lalu bagaimanakah nasib bagi orang yang menjadikan kenikmatan dunia tersebut sebagai langkah agar semakin bertakwa kepada Allah, apakah kabar bagi mereka?
Allah ta'ala berfirman:
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
"Katakanlah: "Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
Pada hari kemudian Allah janjikan bagi mereka bagi mereka sebuah kenikamatan secara menyuluruh juga hakiki, abadi dan Allah meridhoi mereka, sebagaimana yang telah Allah firmankan pada kitabnya yang luhur sebagai pedoman dan pemberi kabar kepada seluruh umat manusia. Maka apakah kita masih ada keinginan untuk menikmati semua kenikmatan yang berlandaskan pada hal yang hanya membuai sahaja?
Stimulasi Kewarasan "Mengembalikan Nalar"
Melepaskan diri atas "fatamorgana dunia" layaknya bukanlah sebuah hal yang prosesnya bisa dikatakan instan dan untuk membenci dunia, akan tetapi sebagai simulasi akan kewarasan diri seumur hidup agar menaruh dunia ini pada tempat alakadarnya dan semestinya.
Sebagai langkah antisipasi tentunya kita perlu mengetahui dan menerapkan beberapa langkah sebagai tameng bagi kita untuk menopang akan kewarasan, diantaranya:
1. Ubah Sudut Pandang
Coba kita berhenti memandang harta, jabatan, dan validasi, sebagai tiang utama dalam kehidupan untuk mencapai yang katanya adalah "kenikamatan sejati", nyatanya itu semua hanyalah bayangan yang menuai kita akan kehancuran. Presisi kan hal-hal tersebut sebagai "alat operasional" untuk mendekatkan diri kepada Allah ta'ala.
Setiap kali kita mempunyai sebuah kenginan yang pada dasarnya duniawi, hendaknya kita bertanya kepada diri kita terlebih dahulu "apakah sebuah pencapaian ini akan membuatku lebih taat serta dekat kepada Rabbku, atau hanya untuk memuaskan ego dan nafsuku sesaat?"
2. Instalasi Filter Keseharian
Amalkan sebuah sunnah Rasulullah ﷺ yakni dengan kita melihat kepada sesuatu yang berada di bawah kita (yang bernasib kekurangan) dalam segala perkara, baik itu materi ataupun duniawi, sedangkan dalam peribadatan hendaknya kita melihat kepada sesuatu yang di atas kita (yang lebih bertakwa).
Dunia maya bisa dikatakan sebagai sebuah mesin pembuat fatamorgana yang paling mencakup, menonjol terbesar. Dengan kita membatasi media sosial dengan secara sadar, terutama pada konten-konten yang dapat memicu iri hati dan rasa kurang bersyukur atas apa yang telah kita miliki.
3. Berhenti Menjual kewarasan Demi Validasi
Dalam kehidupan ini tentu saja kita dipersilahkan untuk bekerja keras, berinovasi dan menggapai sebuah kesuksesan, namun ada ketentuan yang perlu kita ingat yakni untuk tidak tergila-gila akan hal tersebut, seandainya suatu kenimaktan tersebut hilang tertuai realita, dengan lapang dada dan mudahnya kita dapat mengucap innalilahi, tanpa merasa adanya kehilangan dalam diri kita entah itu identitas diri atau harga diri kita semata.
Salah satu cara yang ampuh untuk membuktikan bahwa kita bukanlah individu yang diperbudak oleh harta, yakni dengan menyisihkannya lalu dibagikan kepada yang membutuhkan akan hal tersebut. Karena dengan ini pula salah satu cara untuk memotong akar kecintaan tipu daya dunia yang tumbuh dalam diam dalam hati tanpa kita sadari.
4. Rutinisasikan Menerapkan Reality Check
Perlu kita sadari bahwa mengingat batas usia bukanlah yag menjadikan hidup kita pesimis, melainkan menjaga kewarasan akal pribadi kita. Ketika kita kewalahan akan target duniawi, ingatlah bahwa pada akhirnya yang kita bawa bukanlah harta, jabatan, dan validasi, melainkan kain kafan dan amalan seumur hidup kita.
Titik Lenyap
Kenikmatan yang manusia rasakan punyaknya adalah lenyap, jika seandainya kita tidak meninggalkannya, maka pasti hal tersebut yang akan meninggalkan kita, adapun kita kekal untuknya atau ia kekal untuk kita, itu adalah sesuatu hal yang sangat mustahil. Dunia pasti berpisah dengan individu manapun, atau individu tersebut yang akan meninggalkan dunia. Hal ini merupakan sebuah realita yang tak perlu adanya bukti. Kalau seandainya terkumpul pada diri seseorang sebuah kenikmatan itu, tidak lain hanyalah kenikmatan dunia sesaat yang dapat manusia rasakan lalu ia meninggalkannya atau dunia yang akan meninggalkannya.
Pada akhirnya dikehidupan abstrak yang fana ini, kita akan menyadari bahwa semua tipu daya itu hanyalah fatmorgana, semua itu tak seindah tampaknya, betapa banyak orang tergila-gila akannya, terpesona, terpedaya dan tertipu sandiwara semu. Untuk menentukan bagaimana kita dikemudian kelak, kembali kepada diri kita masing-masing, apakah kita akan menjadi pribadi yang senantiasa diperbudak ilusi optik, sehingga kita terjauh dari rahmat Allah dan binasa di hari esok, ataukah kita akan menjadi seseorang yang sehat secara kewarasan dan tidak terpedaya akan tipuan yang membuai, sehingga termasuklah kita golongan orang-orang yang beruntung?