Artikel

Hidup Diatas Bumi Dan Dibawah Langit

19 September 2026 OSIS (Muhammad Aufa Ash Shiddieq)
Hidup Diatas Bumi Dan Dibawah Langit

Manusia

Manusia seringkali lupa akan realita kehidupan, kenyataannya hidup itu ibarat naik turunnya ombak di permukaan laut lepas. Kita berpikir sejenak apakah ada seseorang yang tak teridentifikasi akan adanya intensitas yang dapat membuat hidup nya terdesak? dan apakah ada seseorang yang kehidupannya teridentifikasi 100% hanya tekanan yang memenuhi skenario kehidupan orang tersebut? tanpa perlu adanya bukti realita mengatakan "tentu saja tidak"

"Hidup diatas bumi dan dibawah langit", mungkin pernyataan ini seperti kalimat tanpa makna, siapa sih di kehidupan ini yang tidak mengetahui realita dari kalimat ini? tapi coba kita berpikir kembali dan memaknainya secara intelektual pernyataan tersebut. Singkatnya pada kehidupan ini pasti ada sesuatu yang kedudukannya diatas kita, dan sebaliknya pasti ada sesuatu yang berada di bawah kita.

Seringkali kita menjumpai seseorang yang merasa dirinya lah langit tertinggi (arogan), dan seringkali pula kita menemui orang yang seolah-olah dirinya lah tanah yang terletak pada inti bumi di paling dasar (putus asa).

Puncak "Langit"

Harta, jabatan dan validasi. Inilah penyebab manusia buta akan realita, sehingga dirinya merasa tidak akan ada yang mampu menyamai atau menyainginya.

Perlu diingat bahwa standar "paling hebat" ialah fana dan akan selamanya begitu, pasti ada dan akan ada lagi orang yang lebih kaya, lebih pintar, atau lebih dari segi manapun di banding diri kita. Di atas langit masih ada langit.

Semua yang kita gapai di dunia ini hanyalah butiran debu di hamparan alam semesta yang luas ini, apalah daya kita sebagai mahluk yang lemah? 

Penderitaan "Tanah"

Menyoroti kebiasaan manusia yang sering mengasihani diri, mengeluh, dan merasa seolah-olah hidupnya lah yang paling berat di kehidupan dunia ini.

Buka mata kita, masih banyak orang yang berusaha dan berjuang lebih keras dalam menghadapi ujiannya daripada kita, dan seberat-berat ujian itu ditimpakan kepada para utusan Allah yakni para Nabi dan Rasul. Di bawah tanah masih ada tanah.

Berhenti dalam berlarut-larut dengan atas apa yang didapat dan apa yang telah terjadi, melainkan tumbuhkanlah rasa syukur dalam diri kita atas segala nikmat yang telah Allah karuniakan kepada kita alih-alih kita berlomba-lomba dalam memvalidasi siapa yang paling menderita, apa gunanya?

Intelektual Akan Kesetaraan

Hentikan deru arus ombak kearoganan, hilangkan kalang kabut keputus asaan, buang ketidak setaraan dalam memaknai dan menjalani putaran roda kehidupan. Ubah sikap buruk akan pengahancur keseimbangan tersebut, ubah diri kita menjadi individu yang berorientasi ke depan, diiringi dengan tawadhu (rendah hati), optimis dengan tidak menyombongkan diri, peduli terhadap sosial, dan sering-sering bertutur kata yang baik serta yakin, kenapa demikian? karena ucapan adalah doa dan keyakinan adalah gambaran daripada diri kita.

Kita hidup diatas bumi, bila kita sedang merasa berat lihatlah kebawah tanpa ada sedikit pun rasa sombong dalam diri kita, melainkan bersyukur atas apa yang telah kita gapai. Kita hidup dibawah langit, jika kita sedang merasa sombong lihatlah keatas tanpa ada rasa putus asa, ingatlah kita hanya butiran debu disisi Allah ta'ala. Kita adalah pengembara di dunia ini, dan semoga dijadikanlah kita sebagai pengembara yang beruntung di masa mendatang dan di kehidupan berikutnya.

"Diatas langit masih ada langit

 dan di bawah tanah masih tanah"

Bagikan Kebaikan Ini: